Paradoks Luwu Timur: Daerah Kaya yang Masih Menyisakan Kemiskinan Ekstrem

DI TENGAH pesatnya pertumbuhan industri nikel, tingginya nilai investasi, dan besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Kabupaten Luwu Timur kerap dipandang sebagai salah satu motor ekonomi Sulawesi Selatan.

Namun, di balik capaian tersebut, masih tersimpan sebuah ironi yang layak mendapat perhatian serius.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan bahwa Luwu Timur masih memiliki angka kemiskinan ekstrem sebesar 1,66 persen, bahkan lebih tinggi dibandingkan sejumlah daerah lain di kawasan Tana Luwu.

Angka Kemiskinan Ekstrem Sulsel 2025

Fakta ini kemudian memunculkan pertanyaan mendasar, yakni mengapa daerah yang begitu kaya sumber daya alam (SDA) masih menyisakan kemiskinan ekstrem?

The Sawerigading Institute (TSI) memandang persoalan ini tidak cukup dijawab dengan narasi bahwa pembangunan telah berhasil atau gagal.

Yang jauh lebih penting adalah memahami bagaimana pertumbuhan ekonomi bekerja, siapa yang menikmati manfaatnya, serta sejauh mana kekayaan daerah benar-benar bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Melalui tulisan berjudul “Paradoks Luwu Timur: Kaya Sumber Daya Alam, Kemiskinan Ekstrem Masih Tinggi“, TSI mengulas berbagai data resmi BPS, mengkaji hasil-hasil penelitian akademik, serta menempatkannya dalam perspektif ekonomi pembangunan yang lebih komprehensif.

Artikel ini menunjukkan bahwa tantangan utama Luwu Timur bukan lagi menciptakan pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan pertumbuhan tersebut menjadi lebih inklusif dan menghadirkan manfaat yang dirasakan secara merata.

Tulisan ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bagi pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, masyarakat sipil, maupun seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada pemerataan, keadilan sosial, dan penghapusan kemiskinan ekstrem.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah daerah bukan hanya seberapa besar kekayaan yang dimiliki, melainkan seberapa banyak masyarakat yang benar-benar menikmati hasil dari kekayaan tersebut.

Download artikel selengkapnya di sini.