[INVESTIGASI] Pentingnya Menghitung Neraca Air di Balik Ekonomi Baterai Sorowako 2.0

Kota Sorowako

Sorowako sedang memasuki babak baru industri nikel. Ketika limonite mulai diarahkan menjadi bahan baku produk antara baterai melalui teknologi HPAL, perhatian tidak lagi cukup berhenti pada cadangan bijih dan nilai investasinya. Ada satu sumber daya yang jauh lebih sederhana, tetapi sangat menentukan, yaitu air.

SOROWAKO saat ini tidak lagi sekadar berbicara tentang tambang nikel dan produksi nickel matte. Di kawasan yang selama hampir lima dekade menjadi salah satu pusat industri nikel Indonesia itu, sebuah fase baru sedang dibangun.

PT Vale Indonesia kini mengembangkan Integrated Growth Project (IGP) Sorowako Limonite (Sorlim), yang dirancang untuk mengolah lapisan limonite dari aktivitas pertambangan yang sudah berjalan menjadi bahan baku produk antara baterai.

Proyek tersebut ditargetkan menghasilkan sekitar 60.000 ton nikel dalam bentuk mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun). Nilai investasinya sekitar US$1,9 miliar, dengan target penyelesaian pada akhir 2028.

Bagi Sorowako, ini berarti perubahan penting. Ekonomi nikel yang sebelumnya bertumpu pada ekstraksi bijih dan pengolahan melalui jalur pirometalurgi mulai bergerak menuju rantai nilai yang lebih dekat dengan industri bahan baku baterai.

Tetapi perubahan itu juga membawa pertanyaan baru: Dari mana sumber air untuk menopang ekonomi baterai tersebut?

Danau Matano Sorowako

Sistem Air Sorowako

Sejak awal, sejarah industri Sorowako memang tidak bisa dipisahkan dari air. Operasi PT Vale di Sorowako memanfaatkan sistem sungai dan danau yang terhubung dalam satu bentang hidrologi.

Tiga fasilitas pembangkit listrik tenaga air—Larona, Balambano dan Karebbe—memiliki kapasitas terpasang total sekitar 365 MW. Sebagian listriknya digunakan untuk mendukung operasi perusahaan, sementara sekitar 10,7 MW disalurkan melalui PLN untuk kebutuhan masyarakat Luwu Timur.

Dengan kata lain, air di Sorowako bukan semata-mata bahan baku atau kebutuhan tambahan bagi industri. Air juga telah menjadi bagian dari infrastruktur energi yang membuat industri itu bisa berjalan dengan biaya relatif murah.

Dan kawasan ini bukan ruang kosong. Danau Matano, Mahalona dan Towuti juga berhubungan dengan kehidupan masyarakat, perikanan, pertanian, transportasi, serta ekosistem yang telah terbentuk dalam waktu sangat panjang.

Bahkan dalam dokumen perusahaan, ketiga danau tersebut disebut sebagai sumber bagi kebutuhan domestik dan mata pencaharian masyarakat di sekitarnya. Karena itu, ketika aktivitas industri berkembang, neraca air menjadi penting untuk dihitung secara lebih serius.

Berapa Banyak Air yang Diperlukan?

Laporan keberlanjutan 2025 PT Vale mencatat pengambilan air di Sorowako sebesar 15.079.167 meter kubik sepanjang tahun. Seluruhnya disebut berasal dari Danau Matano.

Pada tahun yang sama, produksi nickel matte tercatat 72.027 ton. Laporan itu juga mencatat intensitas pengambilan air sebesar 209,35 meter kubik per ton nickel matte.

Angka 15 juta meter kubik terdengar abstrak. Jika dibagi rata sepanjang tahun, jumlah itu setara dengan sekitar 41 ribu meter kubik air per hari.

Sistem Air PT Vale

Jumlah tersebut tentu tidak otomatis berarti seluruh air itu “hilang”. Sebagian besar sistem industri bekerja melalui pengolahan, penggunaan kembali, pengendalian kualitas, dan pengembalian air ke lingkungan.

Vale melaporkan total air yang dilepaskan kembali dari operasi Sorowako sepanjang 2025 mencapai sekitar 89,7 juta meter kubik, yang dialirkan ke sejumlah badan air, antara lain Danau Matano, Danau Mahalona, Salo Lamunto dan Sungai Petea.

Karena itu, pengambilan air dan pelepasan air tidak bisa dibandingkan secara sederhana seperti menghitung air masuk dan air keluar dari satu ember. Sistem hidrologi, pengolahan air, limpasan, dan aliran pembangkit listrik memiliki karakter yang berbeda.

Justru dalam konteks inilah pentingnya neraca air yang menghitung berapa air yang diambil, untuk kebutuhan apa, berapa yang digunakan kembali, berapa yang dikembalikan, kapan air itu tersedia, dan bagaimana kondisinya pada musim kering.

Ketika HPAL Masuk ke Sorowako

Pertanyaan mengenai air menjadi semakin relevan ketika proyek HPAL mulai masuk ke dalam masa pengembangan untuk IGP Sorlim.

Teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) dikenal membutuhkan sumber daya air yang signifikan. Salah satu gambaran nyata datang dari operasi HPAL di Indonesia lainnya. Laporan keberlanjutan PT Halmahera Persada Lygend mencatat penggunaan air sekitar 126 meter kubik untuk setiap ton MHP pada data yang dilaporkannya.

Angka itu bukan angka resmi kebutuhan air proyek Vale dan tidak dapat dipakai begitu saja sebagai proyeksi Sorowako. Tetapi sebagai ilustrasi, jika angka tersebut digunakan hanya sebagai skenario pembanding untuk kapasitas 60.000 ton MHP per tahun, maka kebutuhan airnya berada di kisaran 7,56 juta meter kubik per tahun, atau lebih dari 20 ribu meter kubik per hari.

Angka itu cukup untuk menunjukkan mengapa air layak diperlakukan sebagai salah satu variabel utama dalam ekonomi baterai. Yang juga tak kalah penting, kebutuhan air proyek Sorowako secara spesifik masih perlu dilihat dari data resmi pengembangannya.

Pada halaman proyek yang dipublikasikan Vale saat ini, kapasitas produksi dan investasi telah dijelaskan, tetapi angka kebutuhan air tahunan untuk fasilitas HPAL belum dipublikasikan secara spesifik. Di sinilah ruang pertanyaan publik sebenarnya berada.

Sistem Air PT Vale

Ancaman Bukan Hanya dari Industri

Persoalan air juga tidak selalu muncul karena konsumsi industri. Faktor cuaca bisa mengubah seluruh perhitungannya.

Pada September 2026, BMKG mencatat kondisi El Niño sangat kuat, dengan sejumlah wilayah di Sulawesi berada dalam peringatan kekeringan. Pada dasarian pertama September, sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan tercatat mengalami curah hujan di bawah normal. Untuk Oktober 2026, Luwu Timur termasuk wilayah yang diprakirakan mengalami curah hujan kategori rendah, sekitar 0–100 milimeter per bulan.

Kondisi seperti ini membuat persoalan air menjadi berbeda. Pada saat pasokan berlimpah, tambahan kebutuhan air mungkin tidak terasa terlalu besar. Tetapi ketika musim kering datang, kebutuhan yang sama bisa menghasilkan tekanan yang jauh lebih besar terhadap sistem.

Contoh di kawasan industri Morowali memberi gambaran mengenai risiko tersebut. Pada September 2026, Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mengonfirmasi terjadinya kekurangan air yang berkaitan dengan kondisi El Niño. Sejumlah smelter disebut mengurangi produksi NPI, sementara pengelola mencari sumber air alternatif.

Morowali tentu bukan Sorowako. Namun pengalaman itu menunjukkan satu hal sederhana, bahwa air dapat berubah dari kebutuhan operasional biasa menjadi faktor yang memengaruhi produksi industri ketika kondisi iklim berubah.

PT Vale Indonesia di Sorowako1

Masih Perlu Dijelaskan

Di tengah pembicaraan tentang masa depan ekonomi baterai Sorowako, terdapat pula satu hal menarik dalam informasi publik mengenai air.

Halaman manajemen air dan efluen Vale yang saat ini tersedia mencantumkan angka pengambilan air Sorowako sekitar 31,59 juta meter kubik. Sementara itu, Laporan Keberlanjutan 2025 perusahaan mencatat angka pengambilan air sebesar 15,08 juta meter kubik.

Perbedaan ini belum cukup untuk disebut sebagai kesalahan karena bisa saja muncul dari perbedaan basis pelaporan, definisi, periode atau pembaruan data.

Namun ada satu fakta lain yang membuatnya menarik untuk ditanyakan, dimana angka 31,589 juta juga muncul dalam laporan tahunan 2025 sebagai angka penggunaan energi Sorowako dalam satuan gigajoule, bukan meter kubik air.

Artinya, terdapat perbedaan pengungkapan yang layak memperoleh penjelasan lebih rinci agar publik tidak membaca angka yang berbeda untuk objek yang sama.

Dalam isu sumber daya alam, konsistensi data bukan perkara kecil. Sebab dari angka itulah publik dapat memahami seberapa besar tekanan industri terhadap sumber daya yang menopangnya.

Danau Matano Sorowako

Air untuk Industri, Listrik dan Kehidupan

Pada akhirnya, persoalan Sorowako bukan hanya tentang pabrik HPAL. Disana ada pembangkit listrik. Ada aktivitas pertambangan yang telah berlangsung puluhan tahun. Ada kebutuhan masyarakat. Ada pertanian dan perikanan. Ada ekosistem danau yang sangat penting secara ekologis.

Dan kini ada Sorlim sebagai proyek baru yang diarahkan untuk mengambil posisi dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik. Semua hal itu berada dalam bentang air yang sama.

Karena itu, narasi tentang “Sorowako 2.0” seharusnya tidak berhenti pada berapa ton MHP yang akan dihasilkan atau berapa miliar dolar investasi yang masuk.

Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar, yakni berapa air yang tersedia, berapa yang dibutuhkan, dan bagaimana pembagiannya ketika musim berubah?

Pertanyaan itu menjadi semakin penting karena proyek baru memiliki horizon operasi yang panjang. Infrastruktur HPAL yang ditargetkan selesai pada akhir 2028 bukan dibangun untuk satu atau dua musim, melainkan untuk menopang fase baru industri dalam waktu puluhan atau bahkan hingga ratusan tahun ke depan.

Maka yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar angka penggunaan air tahunan. Sorowako membutuhkan semacam neraca air kawasan yang mempertemukan seluruh kepentingan, mulai dari air untuk industri, air untuk energi, kebutuhan masyarakat, pertanian, ekosistem, sekaligus skenario musim kering dan perubahan iklim.

Hitung Sebelum Terlambat

Ekonomi baterai membawa harapan baru bagi industri nikel Indonesia. Sorowako memiliki pengalaman, infrastruktur, tenaga kerja, sumber daya mineral dan sistem energi yang membuatnya berada pada posisi penting dalam transformasi tersebut. Tetapi setiap transformasi industri selalu memiliki infrastruktur yang tidak terlihat.

Dalam kasus Sorowako, salah satunya adalah air. Karena itu, sebelum menghitung berapa besar nilai ekonomi yang akan lahir dari 60.000 ton MHP per tahun, ada satu hitungan yang sama pentingnya, yaitu berapa besar air yang dibutuhkan untuk membuat angka itu menjadi kenyataan?

Dan ketika musim kering datang, pertanyaan berikutnya menjadi lebih penting. Apakah air Sorowako masih cukup untuk semua yang bergantung padanya? Nah, di situlah sesungguhnya cerita “Sorowako 2.0” bermula. (*)